Tentang RIBA by Saptuari

Tentang RIBA by Saptuari

 RIBA = RAIB!… JADI AIB?
*Ini bacaan santai sadja di waktu masa libur lebaran hehe… Biar gak kebablasan terlalu selow! woles! Menjelang akhir Ramadhan kemarin saya chat japri dengan Ustadz Samsul Arifin, entah orang ini nyaman enggak dengan panggilan ustadz hehe.. Dua tahun lalu saya iseng, iseng lho.. gak niat-niat banget ikut seminarnya “Pengusaha Tanpa Riba” di Jogja, ustadz dari Bogor ini menyadarkan saya berapa banyak uang saya tiap bulan yang ludes untuk bayar hutang bank. Sejak itu saya dihujani capture-an dari orang-orang yang linglung karena hutang, dan juga capture-an dari orang-orang yang sudah bebas dari hutang.
Selanjutnya saya bertemu dengan kawan-kawan di sekitar saya, para pengusaha yang bertumbangan karena hutang, gaya hidup yang mewah, menumpuk aset dari hutang, satu-satu tampil dengan wajah lesu… Walah! Otak jadi panass! Gile dah! Saya mulai bisnis dari tahun 1998 dengan modal pindah-pindah bank, sampai ketika tersadar saya hitung hutang saya di beberapa titik, saya hitung total beban bunganya perbulan… Ampuuuun!!! Ternyata saya begitu baik hati tiap bulan ngasih rejeki kepada para pemilik bank.
Saya yang kerja keras, mereka yang menikmati..
Saya yang jungkir balik, mereka ongkang-ongkang kaki!
Padahal jika saya tidak mengandalkan hutang, beban bunga sebesar itu akan jauh lebih manfaat buat tabungan akherat.
Sejak itulah saya komitmen melunasi hutang-hutang saya, dari hutang kendaraan, hutang modal usaha, jasa ini itu, hingga saat ini berkurang banyak di beberapa titik.
Saya masih proses menjual aset agar bisa melunasi 100% sisa hutang yang ada di bank..
Saya bertanya pada tadz Samsul, kenapa leasing mobil itu jatuhnya riba. Beliau menjelaskan begini.
Ada dua skema jual beli kredit:
Skema 1:
YANG BOLEH DALAM ISLAM
Pakai singkatan gini ya,
B: Bank
D: Dealer
N: Nasabah
Ini yang benar pada Aqad Murobahah (jual beli kredit)
*Nasabah ngomong ke Bank:
“Aku mau beli mobil nih.. Cuma kalau cash uangnya belum kumpul semua. Bisa bantu kan?”
B: “Bisa lah.. Kita kan teman? Mau mobil apa Bro?”
N: “Ya.. Mobil pick-up saja. Buat nambah armada delivery”
B: “Oke.. Aku beliin ya! Yang Suzuki kan?
N: “Oke-oke. Suzuki pick up cukup”
*Lalu Bank datang ke Dealer
B: “Bro.. Aku ada pesanan mobil nih, ada pick-up Suzuki gak?
D: “Siap Bro.. Tuh, Standby di showroom, 100 juta, bungkus! Klo ke orang lain aku kasih 120 juta bro”
B: “Oke bungkus deh, Ini check tunai 100 juta ya Bro!”
D: “Siyyaap, Ini BPKB, STNK, kunci-kunci dan silakan bawa mobilnya..”
B: “Siip.. Deal! Hmmm… Btw, boleh aku nitip mobilnya 1 atau 2 hari ini Bro?”
D: “Silakan.. Silakan.. Insya ALLAH amaan”
*Keesokan harinya Bank mengajak Nasabah datang ke showroom Dealer.
B: “Bro.. Ini mobil pesananmu.. Cocok?”
N: “Yess Bro.. Pas banget, Berapa Bro?”
B: “Cuma 120 juta. Biar ringan, cicil saja 24 bulan x Rp 5 juta sebulan. Oke?”
N: “Thank you berat bro! 5 juta sebulan mah ringan kalau gitu Bro. Bungkus deh. Ini 5 jutanya yang cicilan pertama yak!”
B: “Siip.. Kuterima 5 jutanya ya Bro.. Ini STNKnya, BPKBnya, kuncinya..”
Transaksi selesai, BPKB atas nama siapapun gak masalah, yang penting hak kepemilikan adalah Nasabah.
———————-
Skema 2:
YANG TIDAK BOLEH DALAM ISLAM
Dan ini yang dipraktekkan oleh semua leasing sekarang!
B: Bank
D: Dealer
N: Nasabah
Nasabah datang ke Bank
N: “Bro.. Aku perlu mobil nih, Biasa lah, buat tambahan armada delivery.. Mobil pick up Suzuki. Yang irit aja bensinnya”
B: “Sudah lihat mobilnya Bro?”
N: “Sudah, di showroon D sebelah”
B: “Berapa harganya?”
N: “Katanya 100 juta Bro, Cuma uangku gak cukup, ada baru 20 juta..”
B: “Ya gpp.. Bayar yang 20 juta ke dealer, nanti yang 80 jutanya aku talangin deh!”
N: “Lalu, aku ngembaliin talangannya gimana Bro?”
B: “Gini saja, bayar saja tiap bulan 5 juta selama 20 bulan Bro! Ringan kan?”
N: “Hehehe.. Iya ya.. Jadi ringan kalau cuma 5 jt sebulan. Bungkus deh Bro!”
B: “Eitt.. Tunggu dulu, BPKBnya simpen sini dulu sampe selesai 20 bulan ya Bro!”
N: “Oke.. Tak masalah.. Aku perlu STNKnya saja kok buat polisi”
B: “Hehehe… Deal.. Deal…”
———–
Skema pertama itu sektor riil. Sedangkan bank (syariah) menurut UUBI tidak boleh masuk ke sektor riil. Jadi di Bank Syariah, tidak ada aqad Murobahah, yang ada aqad “ATTAMWIIL al Murobahah” atau Aqad utang-piutang.
Kesimpulan Leasing itu bathilnya 2 hal:
1. Dua aqad pada satu aqad, atau dua transaksi pada satu transaksi. Yaitu
– Aqad sewa (ijaaroh)
– Aqad jual beli kredit (murobahah)
2. Ribanya pada kelebihan dana talangan kekurangan pembayaran.
Saya bertanya lagi “terus gimana lagi tadz supaya bisa beli mobil dengan kredit”
Ust. Samsul: “paling ideal adalah skema 1, tapi gak ada lembaga bank yang mau, tidak boleh barang yang dibeli dijadikan jaminan”
“Kalo pengen tetep beli kredit?”
“Siapa yang mengharuskan beli? Kalo belum punya uang ya gak usah maksa beli, lihat perusahaan besar banyak yang gak beli mobil jadi aset yang nilainya turun, mereka semua sewa pada pihak ke tiga”
“Kalo buat mobil keluarga?!” Tanya saya lagi
“Mereka memaksa pakai istilah BELI mobil baru, padahal itu HUTANG mobil baru!”
Dan saya terdiam.. Hehe!
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”
-QS Al Baqoroh 276
Saya harus belajar banyak lagi, punya bisnis yang jauh dari riba, yang BERSIH biar diberkahi Allah. Kalo bisnis bersih pasti Allah yang akan menjaganya, dan kita tenang menjalankannya karena di akherat pengadilan itu ada..
Perjuangan kita membebaskan hutang riba bukanlah sebuah AIB, selama kita bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh melunasinya, saling mendoakan dan saling mengingatkan. Dan ini akan jadi pelajaran yang muaaahaaaal!
Jangan sampai Allah yang sudah mengingatkan dengan RAIBnya harta-harta RIBA kita, lalu kita tetep cuek.. Dan Allah kirimkan azab lain yang lebih pedih..
“Astaghfirullah hal adzim”
(Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung)
@Saptuari
Copy dari Grup FB Belajar Wirausaha Bareng Saptuari
Membahagiakan Ibu (Jamil Azzaini)

Membahagiakan Ibu (Jamil Azzaini)

Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dari driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal di mana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Dia pun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.” “Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30, berangkat kerja jam 03.30 dini hari?

Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?” Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Saya pun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.” “Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.”

Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air mata pun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan taxi driver ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca, hari ini Asep Setiawan, taxi driver itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya..

(Jamil Azzaini)

Sabtu, 19 September 2015

Repost dari Mas Agung Nugroho di Grup Whatsapp

4 SEKTOR SISTEMASI BISNIS AUTO PILOT

Dari pengalaman membantu pembuatan sistem di perusahaan kami dan alumni ECamp, 4 Sektor inilah yang paling utama. Namun demikian, segala aturan yang tertulis, tanpa kepemimpinan yang kuat, tak akan menjadi kultur yang langgeng. Sengaja saya berikan penomoran, untuk mengurutkan mana yang terpenting, meski semuanya penting. Pada praktiknya, pembuatan sistem sebaiknya dicicil perlahan, bukan sekaligus jadi, apalagi nyontek milik tetangga >> kesalahan fatal. 

Sistemasi dalam bisnis adalah hal-hal yang telah Anda dan tim lakukan keseharian dan terbukti berhasil. Sistemasi adalah langkah menuju duplikasi keberhasilan. Ilmu ini tentu saja lebih cocok bagi mereka yang sudah memiliki usaha dan teruji di lapangan. Berikut adalah 4 Sektor Terpenting dalam Sistemasi Bisnis:
1. PEMASARAN
Kenapa pemasaran saya letakkan pertama? Karena kalau tak ada duitnya, apa yang mau dikelola (manage) dan disistemkan? Dengan asumsi produk sudah diuji di lapangan, maka terpenting adalah membukukan tahapan-tahapan agenda pemasaran sejak hari pertama dan promosi berkala. Faktor lokasi bagi bisnis retail sangatlah penting. Saya pernah mensurvei 90% lebih waralaba lokal tak memiliki keilmuan untuk menentukan lokasi yang tepat. Jika lokasi sudah salah, seperti mancing di kolam yang salah. Mendatangkan trafik menjadi
biaya yang mahal. Perlu dicatat, meski lokasi sudah tepat, keberhasilan cara promosi di suatu cabang, belum tentu sama dengan cabang lainnya. Tergantung dari tingkat awareness merek dan produk Anda di kota tersebut. Maka dari itu, jika suatu perusahaan menjual waralabanya yang masih dibawah 1 tahun berdiri dan belum terbukti memiliki cabang-cabang (beda wilayah) yang berhasil, kemungkinan besar itulah Franchise Tipu-Tipu, alias jual gerobak ngaku franchise.
2. KEUANGAN
Laporan keuangan serupa dengan dashboard yang berisi indikator-indikator kondisi mesin mobil. Apakah mobil dalam kondisi prima? Bahan bakar masih cukup? Air radiator masih penuh? Dan lain-lainnya. Jarang ada waralaba lokal yang bisa memberikan output hingga kedua laporan keuangan: Laba/Rugi dan Neraca. Paling sering hanya: kartu stok, arus kas, penjualan. Tak kaget jika mereka sering terjebak dalam laba semu, bahkan mengira semua uang ditangan adalah laba. Akibatnya saat cat gerobak sudah pudar atau lapuk, sewa habis, tak ada dana untuk membayarnya. Tutup deh.
3. OPERASIONAL
Dengan kemajuan teknologi, pembuatan SOP tak melulu harus diketik, kecuali untuk dokumentasi cadangan dan legalitas/persyaratan, seperti ISO. Anda bisa menggunakan rekaman video dengan kamera saku atau ponsel pintar, cukup. Mulailah dengan menggambarkan alur proses bisnis Anda dari awal hingga akhir. Pecah
proses demi proses, baru SOP kan. Misalnya: SOP pembelian material, penerimaan barang, inspeksi, pembayaran supplier, penjualan, menangani komplain, dan masih banyak lagi. Gunakan alat bantu checklist untuk menghindari kelalaian. Lakukan perbaikan berkala setiap Anda menemukan ‘celah’ kesalahan atau kekurangan. Itulah yang disebut Kaizen (continues improvement).
4. SDM
“First WHO than what..”. Merekrut karyawan yang bagus (attitude) dan tepat (posisi) adalah 50% kemenangan dalam tim. Sisanya adalah pelatihan, kejelasan pekerjaan, penilaian dan jenjang karir. Bagaimana mereka mau termotivasi, jika karir mereka di perusahaan Anda tidak jelas? Jongos forever..!!
Ke 4 Sektor itu adalah bagian dari 7 langkah sistemasi bisnis ‘versi saya’. Semoga
memberikan gambaran besar apa yang harus dipersiapkan atau diperbaiki.
Jaya Setiabudi
Founder Yukbisnis(dot)com

Workshop Facebook Marketing TDA JEPARA

Workshop FACEBOOK MARKETING
Presented by : Komunitas Bisnis Tangan Di Atas Jepara

Minggu, 20 September 2015

Pukul 09.00 – 12.30
di Ruang Sekretariat HIPMI Jepara
Jl. Soekarno Hatta 3,5 , Senenan, Jepara
(Komplek Gedung CV. KALINGGA JATI)

Pembicara :
Mas Afit
Expert FB Marketing
Ketua TDA Tegal Raya

Peserta wajib membawa :
1. Laptop
2. Modem/HP untuk tethering

Tiket sebelum hari-H : Rp 50.000,-
Tiket hari-H : Rp 75.000,-

BONUS Makan Siang, Networking dan 2 Ebook Bisnis Auto Pilot

TERBATAS 15 PESERTA

Pembayaran ke Rek. TDA Jepara BCA 247-1578-713 a/n Nila Puspita Sari

atau tiket bisa diambil di :
Sisikanan DIGITAL PRINTING Jl. Kartini No 6 Jepara Kota

Info pendaftaran :
Afif : 0856.2659.878
Aldi : 0812.2514.5861

Supported by:
TDA JEPARA
BPC HIPMI JEPARA
DPD AMKRI JEPARA